Pilih Pemikiran Out of The Box atau Burn The Box?

Hotelier.co.id – Edward de Bono dalam bukunya ‘The Use of Lateral Thinking’ (1967), membagi pola berpikir menjadi dua, yaitu vertikal dan lateral.

Pola berpikir vertikal adalah pola berpikir logis dan konvensional yang selama ini umum dipakai. Sedangka  pola berfikir lateral adalah menggunakan pemikiran yang umum dipakai dan mengembangkannya menjadi lebih kreatif. Hal ini umum disebut sebagai pola pikir Think out of the Box.

Secara ringkas rumusannya seperti ini:

A adalah aturan, norma atau kaidah yang biasa diapakai. Misalnya: Kalau hotel ya biasanya jual kamar, makanan dan minuman dengan model standard yang lazim layaknya hotel.

B adalah berfikir berbeda. Misal, kamarnya ada di atas pohon atau menyulap pesawat bekas menjadi restoran. Namun, yang dijual tetap sama yaitu kamar, makanan dan minuman.

Jika mbah Edward punya dua konsep berfikir diatas, maka Mas Aris  Dwi Atmoko adalah salah satu inspiring people yang memiliki pandangan yang berbeda dalam mengelola hotelnya. General Manager (GM) muda yang mengelola dua hotel di Yogyakarta ini mengutarakan bahwa konsep Out of The Box dirubahnya menjadi Burn The Box. Hal ini diwujudkan dalam sebuah kreatifitas atau pola pikir yang diluar dari kelaziman itu sendiri.

Ia mencontohkan bahwa pada situasi sulit di Hotel Dafam Fortuna Seturan dan Hotel Dafam Fortuna Malioboro Yogyakarta, ia dan tim nya ekstra kerja cerdas dan keras dengan membuat terobosan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Sedikit memutar kebelakang bahwa kedua hotel yang dikelola Mas Aris tidak memiliki ruangan meeting. Maka, yang bisa menghasilkan revenue hanya sebatas kamar, makanan dan minuman saja.

Lalu, ia berfikir keras bagaimana agar hotel dapat menutup target-target yang ditentukan. Ide gilanya adalah “membuat event-event rutin bersakala lokal, nasional dan internasional”. Tentu hal ini keluar dari pakem yang ada, lha wong hotelnya saja ndak ada meeting room kok mau membuat even besar? Aneh kan?

Akhirnya, pemikirannya terwujud, event-event pun digelar diberbagai tempat-tempat pertemuan umum, ia menyewa tempat lain dan menyelenggarakan event dengan sangat sukses, occupancy hotel dan pundi-pundi pendapatan dari sektor lain pun naik seiring suksesnya event-event yang digelar diluar zona hotel yang dikelolanya.

Alhasil, nilai pendapatan dari event justru jauh lebih besar dibandingkan sektor pendapatan kamar dan fasilitas lainnya dan akhirnya ia pun mampu melampaui target yang ditetapkan.

Ia menyampaikan bahwa kesuksesan tersebut berkat para timnya yang senantiasa mendukung akselerasi tindakan atas pemikirannya. Berkat kerja keras dan kerja cerdas timnya, hotel yang ia pimpin telah mendapatkan berbagai penghargaan dalam berbagai katagori dari Dafam Hotel Management dan instansi-instansi lainnya.

Jadi kesimpulan dari perbedaan antara pemikiran Out of The Box dan Burn the Box adalah sebagai berikut:

  • Pemikiran Burn The Box yang dimaksud adalah meninggalkan secara total cara-cara lama dalam menjual hotelnya dan berfikir untuk melakukan hal-hal yang belum pernah ada sebelumnya. Berfikir tanpa ruang atau sekat-sekat BOX yang menghalangi dan membuat BOX yang baru.
  • Pemikiran Out of The Box yaitu pemikiran kreatif dengan mengembangkan kaidah atau norma (BOX) yang sudah ada sebelumnya. 
  • Katakan “BISA” untuk memulai cara-cara baru dan niscaya kita akan mendapatkan jalan keluar yang tepat. Bila dalam pikiran kita mengatakan “Tidak” maka selamanya ide kreatif kita tidak akan pernah terwujud.
  • Kesuksesan dimulai dari bagaimana kita berfikir dan bertindak

Akankah Anda membuat Box-Box baru lainnya tanpa ada sekat-sekat dalam berkarya?

Salam Jempolier 

By Ikin Solikin | IHLC.co.id

Pelajari Juga Artikel Menarik Dibawah:

Menerapkan Soft Leadership untuk meraih tujuan

Kualitas Karakter Pemimpin Jempolan Ala Indonesia 

GM Gaji Besar, Apa sih kerjanya?

Pilih Menjadi Mental Driver atau Penumpang?