Pilih Mana? Saving Cost or Quality?

hotelier.co.id – Pernahkah hotel kamu mengalami situasi dimana “pendapatan” hotel Anda jauh dari harapan? Apa reaksi kamu sebagai pemimpin ketika menghadapi situasi tersebut?

Mengelola hotel di jaman sekarang bukanlah perkara mudah, himpitan kompetisi sudah semakin ketat sehingga tamu memiliki beragam pilihan dengan harga yang sangat kompetitif. Hal ini juga diikuti dengan naiknya berbagai macam beban biaya-biaya hotel yang terus menanjak setiap periode, namun berbanding terbalik dengan pendapatan hotel yang kian merosot akibat sengitnya kompetisi. Akibatnya: setoran bagi hasil ke owner hotel pun bisa berkurang yang berdampak pada turunnya kepercayaan mereka terhadap manajemen hotel.

Pertanyaannya? How we can survive in this challenging era?  

Sebagian kita pastinya akan berfikir untuk “Saving Cost” dan hal itu tentu sangat tepat, namun jika kita tidak teliti akan berakibat fatal terhadap level kualitas yang kita berikan kepada tamu-tamu kita yang tentunya akan berdampak juga terhadap profitabilitas bisnis dikemudian hari.

Contoh area-area yang bisa dihemat adalah “variable cost” dimana beban biaya akan mengikuti level occupancy, aplikasi penerapannya misalnya:

  • Melakukan efisiensi energi dengan membuat kampanye “hemat energi” di tiap-tiap department yang dipelopori oleh engineering departemen bekerjasama dengan Human resources untuk melakukan kampanye-kampanye dengan berbagai model seperti membuat program, poster, dan video edukasi untuk semua karyawan di semua departemen
  • Melakukan efisiensi “Man Power’ casual sesuai level occupancy, bagian ini lumayan sensitif dan harus betul-betul jeli kapan harus membuka dan menutup pekerja casual/paruh waktu. Gunakanlah rasio man power yang selaras dengan sasaran business
  • Menghemat biaya produksi dengan memastikan bahwa tim kita mampu bekerja dengan benar dan efisien. Meminimalisir kerusakan barang-barang persediaan produksi
  • Meminimalisir keluhan pelanggan karena berdampak pada kompensasi yang diberikan dimana didalamnya mengandung unsur biaya, baik biaya produksi atau pun efisiensi waktu

Selain berfikir untuk menurunkan beban biaya, sebagai pemimpin kita juga hendaknya berfokus untuk mencari jalan keluar yang tepat untuk mendatangkan pundi-pundi rupiah dari jalur lain, berfikir out of the box dengan cara menerapkan Blue Ocean Strategy dengan tepat. Jika fokusnya hanya “mengurangi biaya” tanpa ada tambahan “pendapatan” maka hanya berpengaruh kecil terhadap tingkat profit, oleh karena berfikirlah tanpa batas, namun masih tetap pada koridor standard yang ditetapkan oleh hotel kamu masing-masing.

Kunci dalam pengehamatan adalah masih dalam koridor yang tepat dalam memberikan pelayanan kepada tamu-tamu kita, karena jika kita mengorbankan kualitas maka akan berdampak pada menurunnya kekecewaan dan kepercayaan pelanggan yang tentu saja justru akan menaikkan beban biaya lain dikemudian hari.

Sebagai contohnya:

Kita memiliki tamu regular yang biasa memesan “Tenderloin Steak” dengan standard ukuran 250 gram, tamu tersebut sangat cocok dengan ukuran, kualitas rasa, kecepatan pelayanan, keramahan staff, kebersihan dan harganya (Value for Money). Namun, dalam kunjungan berikutnya dimana hotel menerapkan “Saving Cost” dengan mengurangi standard ukuran menjadi 200 gram dengan jumlah karyawan yang terbatas dengan harga 10%-20% lebih murah.

  • Jika kita menjadi tamu: Apakah kita mendapatkan level of experience yang sama dengan kunjungan sebelumnya?
  • Jika kita menjadi manajer: Apakah berbanding lurus antara “Pendapatan” dan “beban biaya” untuk memperbaiki image atas konsistensi service dihotel kamu?

Jadi, kesimpulanya adalah “Saving Cost” dijaman sekarang hukumnya sudah “wajib”, namun tidak membabi buta dimana inisiatif yang digunakan justru merusak konsistensi pelayanan yang dapat berdampak besar terdapat nilai profit dikemudian hari.

Salam Jempol!

Ikin Solikin