Pilih Copy Paste atau Membuat Produk Sendiri?

hotelier.co.id – dalam artikel sebelumnya telah diulas mengenai 2 jenis strategi bisnis di bidang Pariwisata dan perhotelan. Nah, dalam artikel ini akan diulas lebih rinci mengenai “keuntungan” dan “potensi resiko” yang terkandung dalam proses penerapan dari kedua strategi tersebut.

Pertama adalah Konsep ATM 

Konsep penerapan strategi bisnis Amati, Tiru, dan Modifikasi memang sudah tidak asing ditelinga kita, namun tahukah kamu bahwa proses penerapan dan potensi resikonya jauh lebih besar?

Langkah yang digunakan dalam implementasi strategi ATM cukup panjang dan melelahkan yang meliputi:

  1. Amati yaitu  mengamati alur bisnis, uniqueness dan potensi pasar
  2. Pelajari yaitu  mempelajari proses penerapan internal, menghitung struktur biaya investasi dan estimasi laba dan rugi.
  3. Modifikasi yaitu menyesuaikan ide yang akan diterapkan dengan model bisnis yang akan dibuat. Dalam tahapan ini, bila ternyata model bisnis tidak sesuai maka kita telah membuang waktu pada poin 1 hingga 3 yang tentunya juga membuang uang untuk biaya survey dan lain sebagianya.   
  4. Implementasi yaitu menerapkan ide kedalam bisnis yang dimulai dari proses rancang bangun, mencari orang, melatih dan membuka bisnis. Perlu kita ketahui bahwa yang kita lihat dari ide orang lain tersebut adalah “Tampak Luarnya” saja dimana sebetulnya didalam internal hotel mereka terdapat berbagai macam “kompleksitas proses” yang harus dilalui untuk menghadirkan kualitas produk yang jempolan.
  5. Evaluasi yaitu mengevaluasi hasil akhir dari penerapan ide yang diambil dari orang lain. Proses penerapan evaluasi juga bisa berbeda antar hotel, kita mungkin bisa mengambil ide dari aspek “produk” yang kasat mata, lalu bagaimana dengan “proses dan people” yang ada didalamnya? bisakah kita menyalin dan memindahkannya kedalam hotel kita?

Potensi resiko yang terkandung didalam konsep ATM adalah:

  • Ide yang digunakan adalah ide orang lain, bagaimana jika mereka menuntut kita karena mereka sudah mendaftarkan hak paten?
  • Belum tentu pas digunakan untuk hotel kita
  • Beban nilai investasi bisa jauh lebih mahal karena step yang dibutuhkan juga panjang
  • Image plagiat dari pasar, karena sudah ada yang terlebih dahulu memulai yang juga berpotensi gagal untuk diterapkan karena kita memasuki ranah “Red Ocean” dimana kompetisi sudah ketat.

Lalu, bagaimana jika kita menerapkan ide original kita sendiri, berikut adalah langkahnya:

  1. Riset yaitu dengan menggali potensi produk yang akan dikembangkan beserta potensi pasar yang akan dibidik
  2. Implementasi yaitu dengan merancang dan menerapkan fundamental operasional
  3. Evaluasi yaitu dengan mengevaluasi hasil akhir sesuai dengan performa indikator yang kita tentukan

Potensi keuntungan dan resiko yang terkandung didalam konsep mandiri ini  adalah sebagai berikut:

  • Proses penerapan lebih sigkat karena tidak perlu menyesuaikan dengan model bisnis (hanya 3 step) 
  • Jika berhasil, maka kita bisa berpotensi untuk menjadi pemimpin pasar
  • Jika gagal, maka investasi yang kita keluarkan kelak akan kembali karena kita sudah memulai sesuatu yang berbeda. Jika produk yang dikembangkan sudah melalui tahapan studi yang matang, maka hal tersebut hanya masalah waktu kapan pasar akan siap menerima produk kita.   

Kesimpulannya semuanya tergantung dari strategi hotel masing-masing. Mindset yang menghalangi kita untuk terus berkarya dengan original adalah mereka yang mengatakan: “Ide ini enggak bisa jalan”, “Ide ini kurang pas di market Indonesia”, “nanti kalau gagal bagaimana? atau “Ide ini bagus, tapi…”

Jika kita sudah mengatakan “tidak” sebelum memulai suatu karya, itu berarti kita telah “gagal total” dalam menerapkan ide brilian karena kita sama sekali belum pernah mencobanya. Hal ini sama persis ketika kita hendak menyebrangi sungai dan kita tidak pernah menyebranginya, akankah kita sampai keseberang sungai?.

“Idea is cheap, execution is the most expensive”

Salam Jempol dan Selamat Berkarya!

Ikin Solikin