Pencitraan Diri, Narsis atau Eksis?

Feel Free to share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

hotelier.co.id – Pagi Minggu 19 Desember 2010, di Jalan Gatot Subroto Jakarta Pusat saya bertemu dengan pengendara sepeda yang berpakaian unik; safari putih, peci hitam, kaca mata hitam dengan bendera merah putih di sekujur sepedanya. Saya langsung ingat Bung Karno.

Seminggu sebelumnya, saya harus mewawancarai seorang calon sekretaris. Dia datang terlambat 20 menit karena situasi di sekitar Jalan Sudirman yang macet. Begitu masuk ke kantor saya, dia langsung mengatakan “maaf, saya terlambat”.

Kata-kata itu diucapnya berulangkali, seakan-akan dia melakukan kesalahan yang besar. Saya agak heran. Tetapi, sesudah wawancara selesai saya ungkapkan hal ini ke pewawancara sebelum saya. Ternyata dia menyampaikan ke kandidat itu “pastikan bahwa kamu datang tepat waktu ya, karena Ibu Ade orangnya sangat punctual”.

Kalau kita mendengar kata “prikitiew…” kita langsung mengingat Sule. Sama halnya dengan kata “maknyuss…” yang diidentikkan dengan Bondan Winarno.

Bukan berarti di sini saya mau mengatakan bahwa saya sudah sepopuler Bung Karno, Sule, atau Bondan Winarno. Tetapi, saya mau menunjukkan bahwa ternyata tiap orang itu kalau mau mudah diingat harus memiliki personal branding.

Menurut Wikipedia “Citra personal merupakan proses dimana seseorang dan karirnya ditandai sebagai merek. Jika sebelumnya disebutkan bahwa teknik membantu diri dalam manajemen adalah dengan memperbaiki diri, konsep citra personal menyatakan bahwa sukses datang dari kemasan-diri. Selanjutnya dijabarkan sebagai penciptaan aset yang berkaitan dengan orang atau individu tertentu; ini termasuk namun tidak terbatas pada pakaian, tubuh, penampilan, dan pengetahuan, yang mengakibatkan kesan yang tak terhapuskan, kesan yang unik. Istilah ini dianggap telah digunakan dan dibahas pertama kali oleh Tom Peters pada tahun 1997.”

Coba kita lihat di tempat kita bekerja, ada banyak orang yang memiliki keterampilan yang sama dengan kita, bahkan mungkin lebih baik dari kita. Untuk bisa bersaing dan diingat oleh para manajer kita atau calon bos kita, saya rasa membangun personal branding itu perlu.
Caranya yaitu dengan secara konsisten menjaga prestasi kerja, ucapan-ucapan, perilaku, kualitas diri, serta penampilan kita.

Jangan puas dengan hasil kerja kita yang sedang-sedang saja. Selalu hasilkan sesuatu yang sempurna, atau mendekati sempurna. Coba asah kreativitas Anda dengan menyodorkan konsep-konsep baru di departemen Anda, betapa pun anehnya atau gilanya konsep itu, tetapi Anda sudah satu langkah lebih jauh dibandingkan rekan kerja Anda yang tidak memikirkan apa-apa.

Selalu pakai ucapan-ucapan yang positif dan lugas. Sehingga pesan kita akan selalu diingat atau dimengerti oleh lawan bicara kita dengan mudah. Di dalam pelatihan, saya suka memakai analogi atau cerita-cerita yang menarik, dan saya senang sekali ketika beberapa tahun kemudian saya bertemu dengan peserta training saya, mereka masih mengingat cerita-cerita saya dengan baik.

Lakukan apa yang Anda katakan. Di dalam dunia bekerja, kalau kita selalu melakukan apa yang kita katakan, kita akan dihargai lebih baik oleh superior dan subordinat kita. Saya dianggap orang punctual atau disiplin, karena memang saya selalu mengatakan kalau karyawan mau berhasil di dalam pekerjaannya. Salah satu kualitas yang harus dimiliki adalah disiplin, yaitu datang tepat waktu dan memenuhi tenggat waktu.

Kualitas diri dibangun oleh jumlah pelatihan-pelatihan yang Anda ikuti, seberapa rajin Anda memperbaharui pengetahuan Anda, seberapa luas jaringan sosial Anda, seberapa bijaksana Anda mengambil pelajaran tentang hidup. Hal ini akan tampak pada saat Anda dimintai pendapat oleh rekan kerja, kerabat atau pun teman-teman Anda. Jika Anda dapat memberi masukan-masukan yang baik, mereka akan mengingat Anda lebih baik.

Cara membangun citra personal yang terakhir adalah dengan menjaga penampilan Anda. Menjaga penampilan tidak identik dengan pakaian-pakaian yang mahal, tetapi coba simak trend yang terakhir, aksesori yang dapat membuat penampilan Anda lebih profesional serta pemilihan warna yang tepat. Simak seberapa sering Anda mendengar atau membaca dress for success?

Suka atau tidak, untuk bisa bersaing dan meniti karir kita harus membangun citra personal.

By Ade Noerwenda

About The Author

16 years experience in hospitality industry with the latest position as Director of Human Resources Malaysia, Indonesia, Singapore at Accor (2008-2014). Today, I build and manage Dinamis Indonesia, a Human Resources and Corporate Social Responsibility Consultant.

http://www.dinamisindonesia.com

 

Like & Share

Leave a Reply

error: Copyright by HOTELIER.CO.ID 2017. For non commercial purpose, please contact info@hotelier.co.id