Mengenal Tradisi Ruwahan Masyarakat Jawa

Feel Free to share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Hotelier.co.id – Memasuki bulan Sya’ban sesuai kalender hijriah atau bulan ruwah sesuai kalender jawa, sebagian besar masyarakat jawa mengadakan kegiatan sesuai tradisi bernama ruwahan.

Tradisi ruwahan dibagi menjadi 2 kegiatan yakni “apeman” dan “nyadran”. Apeman adalah tradisi dimana masyarakat jawa akan membuat apem, ketan dan kolak yang akan dibagikan kepada kerabat dan tetangga di sekitar rumah. Sedangkan “nyadran” berasal dari bahasa sansekerta Sraddha yang berarti bakti. Sehingga tradisi nyadran adalah salah satu wujud bakti kita terhadap keluarga yang sudah meninggal dunia dengan cara mendoakannya atau mengadakan tahlilan. Tradisi nyadran ini biasanya akan dihadiri oleh seluruh keluarga besar keturunan dari orang yang dimakamkan tersebut. Tradisi ini juga sekaligus sebagai sarana untuk merekatkan kembali silaturahmi antar keluarga.

Sedangkan “tradisi apeman” diadaptasi dari tradisi di India selatan dimana masyarakat hindu melakukan pemujaan terhadap Dewa Ayyapa ( Dharma Shastha) yang merupakan titisan “Siwa” dan “Wisnu” dengan menggunakan sesaji berupa “Appam” dan “ Aravana payasam(bubur ketan dicampur santan manis berwarna coklat), kemudian makanan tersebut dibagi-bagikan ke sanak kerabat dan tetangga di sekitar.

Tradisi apeman berupa pembuatan makanan apem , ketan, kolak juga memiliki arti bahwa kita sebagai manusia memohon maaf dan ampunan kepada Alloh dari semua kesalahan yang kita buat. Rincian makna dari tradisi ini adalah sebagai berikut:

“Kata Apem diadaptasi dari kata Afuan / afuwwun dalam bahasa arab yang berarti ampunan atau maaf”

“Kata ketan diadaptasi dari kata khotan dalam bahasa arab yang berarti kesalahan”

“Kata kolak diadaptasi dari kata Kholaqo, kholiq dalam bahasa arab yang berarti Alloh/ sang maha pencipta”

Apem adalah makanan berupa kue dari tepung beras yang berbentuk bulat mirip kue doreyaki. Sedangkan kolak adalah minuman bersantan gula jawa yang didalamnya berisi potongan pisang, potongan ubi dan potongan buah nangka. Sebagai makanan pendamping kolak adalah ketan putih yang sebelumnya dimasak dengan air gula sehingga rasanya manis.

Tradisi ruwahan berupa “apeman” dan “nyadran” akan terus dilakukan hingga satu hari sebelum memasuki bulan suci romadhon. Dengan harapan dan keyakinan bahwa setelah melakukan tradisi ruwahan (memohon ampunan kepada alloh) yang dilakukan dalam keadaan suci untuk menyambut bulan romadhon yang penuh berkah.

keluarga besar dari penulis nyekar ke makam dalam rangka nyadran

Keterangan foto: keluarga besar dari penulis nyekar /berkunjung ke makam leluhur dalam rangka nyadran

Tradisi ruwahan ini sudah ada sejak jaman dahulu kala dan hampir punah seiring perubahan jaman dan pesatnya kemajuan teknologi. Jadi , sebagai bangsa indonesia yang kaya akan budaya dan tradisi ini kita sudah sepatutnya menjaga dan melestarikan tradisi ini. Banyak makna dan arti kehidupan yang dapat dipetik dari tradisi ruwahan dan nyadran ini salah satunya adalah upaya mendekatkan diri kepada Alloh dengan memohon ampunan bagi dirinya, keluarganya baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dan bagi sesama manusia. Serta wujud rasa syukur kita terhadap karunia dan rejeki yang telah diberikan oleh Alloh dengan cara berbagi atau berdema dengan sesama manusia.

Salam Jempolier

By: Galih Satria Hutama

Baca Juga Artikel Menarik Dibawah:

Mengenal Javanese Diaspora Event

Javanese Diaspora Event III di Yogyakarta

Pawai Ogoh Ogoh Bukti Kebhinekaan Masyarakat Jogja

Like & Share

Leave a Reply

error: Copyright by HOTELIER.CO.ID 2017. For non commercial purpose, please contact info@hotelier.co.id