Kraton Yogyakarta dari masa ke masa

Hotelier.co.id- Kraton yogyakarta adalah salah satu objek wisata yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang sedang menikmati liburan di Yogyakarta. Kraton Yogyakarta yang kini bisa dikunjungi oleh wisatawan merupakan kraton yogya setelah terjadinya perjanjian giyanti yang salah satu isinya adalah membagi wilayah kerjaan mataram menjadi 2 yakni Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Taukah kamu bahwa kraton yogyakarta mengalami beberapa kali perubahan sebelum seperti sekarang? untuk lebih jelasnya baca artikel hotelier.co.id dibawah ini ya….

1. Kraton Kotagede

Kraton kotagede ini adalah kraton pada masa kerjaan mataram islam berdiri. Lokasinya berada di kecamatan kotagede, kota yogyakarta. Jaraknya kurang lebih 6 km dari jantung kota yogyakarta.

Kemunculan Kraton Kotagede berawal dari tanah perdikan di Mentaok (Mataram) yang diberikan kepada Ki Ageng Pamanahan oleh Sultan Hadiwijoyo, Sultan Pajang.  Tanah perdikan atau sima merupakan sebidang tanah yang diberikan kepada orang yang berjasa kepada raja yang berkuasa. Ketika itu Ki Ageng Pamanahan berhasil menumpas Arya Penangsang, yang sebelumnya membunuh Sunan Prawoto, penguasa terakhir Kerajaan Demak pada 1549.

Kraton ini memiliki struktur tata kota gabungan Hindu dan Islam. Bentuk bangunan dan gapura jelas terilihat merupakan ciri Hindu. Tetapi seperti halnya Demak dan Pajang, masjid menjadi bagian penting dari Kraton.

Sejumlah peninggalan bersejarah juga masih terlihat jelas. Salah satunya Watu Gilang yang berada di dekat Makam Hastorenggo. Konon, batu ini digunakan untuk membenturkan kepala Ki Ageng Mangir, sosok yang tidak mau mengakui Mataram namun akhirnya menjadi menantu Senopati. Selain itu,di kompleks kraton kotagede ini terdapat masjid dan makam dari ), Ki Gede Pemanahan, Panembahan Senopati, dan anggota keluarganya. Hal yang unik dari kraton kotagede ini adalah adanya pohon beringin yang ditanam langsung oleh Sunan Kalijaga dan telah berusia lebih dari 500 tahun. Sangat besar dengan ketinggian lebih dari 30 meter, seakan menjadi penjaga kompleks makam kotagede.kraton KG

2. Kraton Plered

Kraton Plered adalah kraton yang dibangun raja Amangkurat I dari Mataram. Amangkurat pindah dari kraton lama di Karta(Kotagede), yang dibangun Sultan Agung (ayah dari Amangkurat I) antara tahun 1614 dan 1622 dan terbuat dari kayu. Plered dibangun dengan bata. Pekerjaan pembangunan di Plered dikatakan tidak berhenti sampai tahun 1666. Letaknya di Pleret, Bantul, di sebelah timur laut Karta(Kotagede).

Kraton Plered ditinggalkan tahun 1680 oleh putera Amangkurat I,Amangkurat II, yang pindah ke Kartasura. Saat ini situs keraton pleret hanya tinggal bekasnya saja dan sudah sedikit sekali komponen bangunan yang masih dapat di lacak. Hal ini mengingat main paddatnya pemukiman penduduk di wilayah pleret. Selain itu, sebagain kawasan cagar budaya pleret banyak dimamfaatkan sebagai lahan industry bata, yang seringkali menemukan sisa-sisa struktur bangunan keraton pleret. Dan tidak jarang sisa bata struktur bangunan tersebut diambil masyarakat sekitar untuk diubat semen merah. Reruntuhan-Ruang-Iman-dan-Bangunan-Masjid-Utama-Mataram-Pleret

3.Kraton Ambarketawang

Saat Mataram pecah menjadi Kasultanan (Yogyakarta) dan Kasunanan (Solo) pada tahun 1755, Hamengku Buwono I membangun keraton pertamanya di Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Sleman. Namun kini bangunan keraton di Ambarketawang itu nyaris tak berbentuk lagi, dan hanya menyisakan puing-puing.

Bagian yang masih tersisa hanya berupa sebagian dinding benteng di sisi barat, selatan dan utara. Tembok yang terbuat dari batu merah yang dipasang melintang, setingi 3 meter dan tebal 50 cm. Tembok di sisi barat masih tersisa sepanjang 57,61 meter. Terdapat relief sayap burung, namun hanya tinggal sebagian saja. Sedangkan di sisi selatan masih menyisakan dinding dengan ketebalan yang sama sepanjang 20,20 meter. Sementara tembok yang membujur utara-selatan di sisi timur, nyaris tak tersisa lagi.

Selain dinding benteng, juga ditemukan sisa-sisa bangunan yang juga terbuat dari batu bata. Seluruhnya terdapat tiga kelompok bangunan. Masing-masing di sisi barat membujur utara-selatan sepanjang lebih kurang 8 meter, kemudian bangunan kedua berukuran 6 x 1 meter terletak di sisi utara bangunan pertama. Bangunan ketiga berbentuk huruf L dengan panjang 15 meter. Pada bangunan ketiga ini masih ditemukan sisa-sisa lantai yang sudah tidak beraturan.

Juga terdapat sisa bangunan kandang kuda atau kestalan, berupa dinding tembok yang berjarak sekitar 100 meter dari komplek keraton. Sementara 180 meter arah barat daya komplek keraton, juga didapati sisa-sisa bangunan kademangan. Kraton Ambarketawang ini menjadi tempat persinggahan Sultan Hamengkubuwono I sampai Kraton Yogyakarta selesai dibangun.Pesanggrahan Ambarketawang

4.Kraton Yogyakarta saat ini

Kraton Yogyakarta saat ini terletak di jantung kota yogyakarta. Secara fisik istana para Sultan Yogyakarta memiliki tujuh kompleks inti yaitu Siti Hinggil Ler (Balairung Utara), Kamandhungan Ler (Kamandhungan Utara), Sri Manganti, Kedhaton, Kamagangan, Kamandhungan Kidul (Kamandhungan Selatan), dan Siti Hinggil Kidul (Balairung Selatan). Selain itu Keraton Yogyakarta memiliki berbagai warisan budaya baik yang berbentuk upacara maupun benda-benda kuno dan bersejarah. Di sisi lain, Keraton Yogyakarta juga merupakan suatu lembaga adat lengkap dengan pemangku adatnya. Oleh karenanya tidaklah mengherankan jika nilai-nilai filosofi begitu pula mitologi menyelubungi Keraton Yogyakarta. Dan untuk itulah pada tahun 1995 Komplek Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dicalonkan untuk menjadi salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO.

Saat ini kraton yogyakarta dibuka untuk umum, sehingga wisatawan bisa menyaksikan dan masuk ke dalam kraton. Para pemandu wisata siap untuk mengantarkan wisatawan berkeliling komplek kraton dan memberikan penjelasan mengenai sejarah agar wisatawan menjadi tahu mengenai kraton yogyakarta.kraton-yogyakarta

Karena lokasinya yang cukup dekat, keempat kraton di yogyakarta bisa dikunjungi dalam waktu sehari lhoo….Untuk masalah transport jangan khawatir .. transportasi tradisional seperti Andong dan becak siap mengantar wisatawan berkeliling jogjakarta, transportasi umum seperti bus kota dan bus transjogja bisa menjadi alternatif pilihan lain selain transportasi tradisional, jadi kapan nih ke jogja?