Etika Bersosial Media Bagi Hotelier

Feel Free to share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

hotelier.co.id – Pernahkan Anda melihat berbagai macam konten yang di share melalui berbagai Social Media? atau Pernahkah Anda merasa bahwa yang di share tidak lebih hanya sekedar informasi yang tidak penting? Ataukah Anda juga berfikir bahwa informasi yang di share seharusnya tidak begitu mudahnya keluar dari hotel?

Dalam artikel ini, saya akan share mengenai pentingnya menjaga dan mengelola informasi yang layak dan tidak layak di share ke publik, sehingga kita tetap dapat menjaga etika profesionalime kita dalam pergaulan kita sehari-hari, terlebih didalam bersosial melalui berbagai macam social media yang dihimpun dari berbagai sumber.

Pertama, gunakan konsep T.H.I.N.K sebelum Anda menyebarkan informasi 

Sebelum Anda mengunggah atau sharing konten, sebaiknya Anda berfikir dulu dengan menanyakan beberapa pertanyaan penting berikut ini kedalam diri Anda sendiri.

Is it TRUE?

Apakah informasi yang Anda sampaikan memang “benar” atau hanya sekedar “gosip”? Jika benar, maka lanjutkan dengan menyakan pertanyaan dibawah ini.

Is it Helpful?

Jika informasinya “Benar”, apakah lantas informasi tersebut dapat “membantu” orang lain yang menerimanya? Jika Iya, maka lanjutkan ke pertanyaan selanjutnya..

Is it Inspiring

Jika informasi yang akan Anda sampaikan “Benar” dan dapat “Membantu” orang lain, pertanyaan selanjutnya adalah Apakah informasi tersebut mampu “Menginspirasi” orang lain untuk menjadi lebih baik?”

Is it Necessary?

Setelah kita melakukan filter bahwa informasi tersebut “benar” serta dapat “membantu” dan “menginspirasi” orang lain untuk bertindak menjadi lebih baik, pertanyaan selanjutnya:

Apakah informasi tersebut “Penting” untuk mereka?”, jika tidak dan di share misalnya melalui Whats up dan sejenisnya, maka hanya berpotensi untuk menjadi sampah yang tidak berguna yang hanya memenuhi memori HP orang lain. Terlebih jika yang Anda share berbentuk gambar atau video yang membutuhkan memori dan bandwidth dalam mengunduh informasi.

Is it Kind?

Nah, Anda sudah menyaring bahwa informasi yang Anda bagikan benar, membantu, menginspirasi dan penting bagi penerima. Filter yang terakhir adalah: Apakah informasi tersebut mengandung unsur yang “Positif” dan memiliki dampak “Baik” bagi para penerimanya? Apakah informasi tersebut mampu memberikan manfaat bagi mereka?

Ketika Anda sharing info, tujuan Anda mungkin saja baik, yaitu membagi informasi kepada network Anda. Tapi apa yang ada di benak penerima jika Informasi yang Anda share berisi mengenai “Adu” domba, kebencian dan hal-lain yang sama sekali justru memecah belah sesama? Apa image mereka terhadap Anda?.

Jika Anda menggunakan akun LinkedIn yang merupakan akun profesional dimana Anda mencantumkan posisi dan nama hotel, Apa image yang akan disandang oleh hotel Anda?

Nah disinilah pentingnya kita dalam memilah informasi sebelum kita menulis status atau share mengenai informasi lain.  Perlu kebijaksanaan dalam diri Anda untuk menyebarkan informasi yang bernada “Positif” dan memberikan dampak yang baik bagi penerima informasi. Disini pula lah letak kedewasaan Anda dalam bersosial media dinilai oleh orang lain.

Model pendekatan T.H.I.N.K tersebut sangat penting bahwa sebelum kita menyebarkan informasi maka kita bisa berfikir dan menyaring terlebih dahulu informasi mana yang layak di share dan yang tidak, serta memikirkan dampaknya terhadap penerima informasi. Karena, bila kita kurang cermat dalam berfikir dan langsung share kanan dan kiri, maka belum tentu apa yang kita share dapat membantu mereka.

Jadi, THINK before you share akan menjadikan kita menjadi pribadi yang selektif dalam menyebarkan informasi yang berarti kita sudah memikirkan dampak atas informasi yang kita share kepada orang lain. Dampak tersebut dapat berupa image pribadi atau image hotel dimana kita bekerja, baik positif maupun negatif.

Contoh ilustrasinya adalah sebagai berikut:

Sebagai profesional dihotel tentunya kita tahu bahwa didunia perhotelan itu sangat pantang untuk menyebarkan kebencian atau pun membicarakan hal-hal yang bersifat SARA. Kenapa? Karena hal tersebut dapat memicu konflik yang berujung pada retaknya suatu hubungan, hal ini tentunya sangat kontradiktif dengan profesi kita yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan. Karena, “We are in the people business” dan sebaiknya kita berada diposisi netral dan melayani siapa saja yang berpotensi untuk menunjang kesuksesan bisnis.

Perkara Politik, Agama, Ras, Suku dan Golongan adalah hal pribadi yang seharusnya tidak dibawa kedalam ranah profesional karena rentan sekali terhadap konflik.

Lalu, apa dampaknya kedalam karir kita jika kita melakukan hal tersebut?

Perlu Anda ketahui bahwa sebelum Anda melakukan sesi wawancara, sebagian besar HRD saat ini sudah mulai melihat “Apa status facebook Anda”, Apa tulisan dan foto yang Anda tampilkan? Informasi apa yang Anda share? Recruiter melihat informasi tersebut sebagai refleksi atas “kepribadian” Anda yang asli dan tidak dibuat-buat.

Jika dalam tulisan social media Anda mengandung unsur kebencian, maka hal tersebut berpotensi negatif atas pandangan recruiter terhadap diri Anda. Hal ini akan terbalik jika yang Anda share adalah hal-hal yang positif yang tentunya akan memberikan bobot penilaian positif terhadap diri Anda. Jadi, THINK before you share is very important aspect for your career.

Kedua, Pelajari Kebijakan Hotel Anda sebelum Share Info

Pernahkah Anda melihat berbagai macam informasi berbentuk “video” atau foto tentang kasus-kasus yang ada dihotel akhir-akhir ini?

Yang terhangat beberapa bulan terakhir adalah kasus tentang “meeting room” disalah satu kota di Jawa, ada juga yang tentang “kolam renang” di jawa barat dan lain sebagainya yang semuanya adalah “Informasi negatif” tentang hotel yang bersangkutan.

Sebagai orang dalam (Karyawan yang bekerja), sudahkah Anda berfikir sebelum menyebarkan rekaman CCTV hotel yang seharusnya hanya menjadi konsumsi hotel Anda saja? Apa dampaknya bagi hotel Anda bila kasus dalam video tersebut tersebar luas? Apa yang menjadi image hotel Anda?

Sebagai penerima informasi dari hotel lain, apakah Anda juga latah ikut-ikutan menyebarkan informasi negatif tersebut ke khalayak? Apa dampak bagi hotel yang bersangkutan? Bagaimana jika hal tersebut terjadi di hotel Anda?

Nah, disinilah perlunya kita mengetahui kebijakan di hotel Anda masing-masing, Bila Anda belum punya kebijakannya maka sangat dianjurkan untuk mulai menata kebijakan bersosial media ria, karena hal ini akan sangat menyangkut image hotel di masyarakat.

Sebaliknya, sebagai penerima informasi, hendaknya kita berempati terhadap hotel yang mengalami musibah dan tidak latah ikut-ikutan share informasi ke publik karena hanya akan membantu menghancurkan image dari hotel yang sedang berduka tersebut.

Jadi, inilah etika pentingnya bersosial media. Alih-alih ingin membantu dan menjadi pahlawan tapi dampaknya bisa berpotensi negatif bagi hotel yang bersangkutan. Jadi, sekali lagi THINK before you share any information.

Jadi kesimpulannya, ketika kita ingin menyebarkan informasi dan menjaga etika dalam bersosial media, maka Anda bisa menyaring dengan model THINK  dan mempelajari kebijakan hotel Anda. Sehingga, etika profesionalisme kita ketika berseluncur di jagat maya dapat mempengaruhi image pribadi dan image hotel yang positif, sehingga dengan etika tersebut maka hubungan dengan sesama dapat terpelihara dengan baik yang berpengaruh terhadap karir pribadi Anda maupun bisnis di hotel Anda.

Salam Jempol!

By: Ikin Solikin   

Pelajari Juga Artikel Menarik Berikut ini:

Pentingnya Candidate Relationship Management dalam Employer Brand

Pentingnya fungsi Talent Acquisition di Hotel

Brand is Just Like a Person

Price War; Kapan berakhir?

Like & Share

Leave a Reply

error: Copyright by HOTELIER.CO.ID 2017. For non commercial purpose, please contact info@hotelier.co.id