Dua Jenis Strategi Dalam Bisnis Pariwisata

Feel Free to share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

hotelier.co.id – Pernahkah Anda mendengar salah satu konsep strategi ATM atau Amati, Tiru dan Modifikasi? Sudahkah Anda menjalankan konsep tersebut? Apa dampaknya terhadap operasional dan hasil yang Anda raih? Sudahkah Anda ukur antara karya Anda dengan hasilnya?

Jika kita berbicara mengenai teori, maka banyak sekali buku yang membahas tentang jenis-jenis strategi, tapi saya hanya akan berfokus membahas buku karya dari Mbah W. Chan Kim dan Renée Mauborgne yang juga seorang professors dari INSEAD yang berjudul “Blue Ocean Strategy”. Saya sangat suka dengan kontennya karena sangat mendidik pola pikir kita dalam berbisnis dengan berlandaskan etika dan kreatifitas.

Berikut adalah ulasan lengkapnya:

Part 1 Blue Ocean Strategy

Jenis strategi ini banyak sekali diadopsi oleh perusahaan-perusahaan yang terdaftar dalam World Best Hotel Brand  yang merupakan pendekatan strategi yang menekankan kepada “faktor” pembeda dari kompetisi. Kata kuncinya adalah “BEDA” dan bedanya itu “menonjol” dari yang lain, bukan hanya dimodif saja.

Dengan tingkat keunikan yang tinggi dan berbeda maka Anda akan mampu menciptakan “Pangsa Pasar” yang “berbeda” dari kompetitor karena Anda dapat menciptakan “Pasar dan lautan biru yang Anda ciptakan  Sendiri”

Pertama bukan berarti juga yang terbaik, bila pondasi tersebut tidak terpelihara dengan baik. Jika sudah nyemplung kedalam Blue Ocean, ya berarti nyemplung terus dengan berkarya tanpa henti untuk menciptakan peluang-peluang baru yang lainnya.

Contoh ilustrasi dalam keseharian kita adalah sebagai berikut:

Gojek vs Conventional 

Gojek adalah yang pertama dalam merambah dunia “Ojek Online” di Indonesia, lalu diikuti oleh pemain lokal lainnya. Misalnya ada si Pink, Si Biru dan Si Hitam.

Dimanakah mereka sekarang?

Ya, sebagian sudah gulung tikar, sebagian lagi sudah berdarah-darah tidak karuan. Lalu, kenapa si Gojek masih exist? Karena baru saja disuntik triliunan rupiah oleh investor atau karena pengembangan?

Bisa jadi karena dalam benak masyarakat sudah tertanam image: “Ojek Online ya Gojek”. Sama seperti Air Mimun kemasan, ketika pembeli hendak membeli maka bilangnya: “Bu Beli Aqua nya ya..” padahal mereknya beda hahahaha….

itulah kekuatan dari sebuah “Brand Perception” karena diciptakan pertama kali dan konsisten dalam mengemas atau memberikan pelayananya kepada para pelanggannya. Kata kunci suksesnya adalah “konsisten” dan tidak “mencla mencle”.

Lalu, apa yang membuat Gojek berbeda saat itu?

Yang membuat berbeda adalah “Total Experience”, yaitu semua touch point telah di monitor untuk memastikan pelayanan yang konsisten yang dinilai dengan berbagai macam indicator, mulai dari response time saat ada keluhan, system rating driver, harga yang fair, arrival time dan indicator lain yang saya tidak bisa saya sebut satu per satu.

Coba bandingkan saja dengan Ojek konventional saat itu dimana  Ojek Online baru hanya ada Gojek, maka dengan berbagai resiko yang dihadapi, akhirnya Gojek mampu menarik hati “konsumen baru” dibandingkan yang “konvensional”. 

“Golongan orang-orang seperti saya yang Simple, enggak pakai ribet jelasin rute atau tawar menawar, langsung Cussss dan bayar”, adalah salah satu contoh pasarnya si Gojek tempo dulu hingga sekarang.

Bagi mereka yang suka nawar atau mereka yang suka level personal touch nya lebih tinggi (karena dijemput tiap pagi didepan rumah dengan greeting dari ojeknya: Apa Kabar Bosss?) 

atau; bagi mereka yang males nunggu ojek online karena terlalu lama dan males jelasin “posisi saya disini, pakai baju warna X  ya…” maka mereka semua bisa jadi masih tergolong pelanggan setia Ojek konvensional.

Kalau dalam istilah politik, ada juga pasar yang bersifat  Swing Voter, mereka yang belum memiliki keputusan, yaitu masih lihat kanan dan  kiri” yang penting siapa saja yang ada (offline atau online) mana yang lebih cepat, maka itulah yang diorder.

Jadi, masing-masing punya pasarnya sendiri-sendiri dan Gojek dengan pendekatan Blue Ocean telah berhasil menciptakan pangsa pasar baru yaitu “pangsa pasar Ojek Online untuk katagori pasar dengan karakteristik dan demografi yang jelas berbeda dengan pasarnya Ojek konvensional”.

Jika kita merujuk pada industri Pariwisata dan Perhotelan, maka sama saja prinsip aplikasi strateginya yaitu: “Jadilah yang pertama untuk menciptakan pasar yang baru”

Dengan demikian, maka Anda tidak tergerus oleh ombak besar bernama: “Kompetisi” karena Anda bisa mengarungi dan menikmati birunya lautan bisnis yang Anda lalui untuk mengeruk ikan untuk Anda sendiri karena kompetisi masih sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali.

Syaratnya: Anda tidak boleh tidur dan berpuas diri yaitu selalu menciptakan karya terbaru yang terstruktur, terencana dan berfikir jauh kedepan dengan mengembangkan divisi Research & Development Center.

Part 2: Red Ocean Strategy

Pendekatan “Red Ocean” tidak serumit istilahnya. Sederhananya adalah Anda menggunakan strategi untuk memasuki pasar yang sudah “ketat” atau bahkan “sudah jenuh”. Red itu merah yang diibaratkan seperti Anda berenang dalam sebuah lautan merah yang berdarah-darah dimana Anda bisa berpotensi “tergulung arus” dalam mengarungi kejamnya lautan dengan tekanan ombak yang begitu besar.

Contoh dalam Industri pariwisata dan perhotelan sangat banyak sekali, misalnya saja di era tahun 2009-2015 pembangunan hotel berkelas Budget sangat massive. Karena jika merujuk pada riset demografi penduduk, maka diproyeksikan Indonesia akan kelimpahan Bonus Demografi dimana “jumlah penduduk usia produktif” yang memasuki dunia kerja jauh lebih banyak dibandingkan dengan “usia anak sekolah” atau “usia lanjut”.

Karena jumlah usia pekerja produktif banyak, maka ekonomi akan bergerak dan laju orang berpergian dikelas menengah untuk berbagai perjalanan diproyeksikan meningkat dimana mereka membutuhkan akomodasi, dan disitulah mereka berlomba-lomba membangun hotel kelas budget dengan angan-angan bahwa balik modalnya lebih cepat, pasarnya besar, konsepnya lebih fresh dari kompetitor dan beraneka bayangan lainnya.

Bonus demografi ini akan berlangsung ditahun 2020-2030, Itulah  yang menjadi salah satu alasan kenapa kami menulis dan mengundang siapapun untuk bersama membangun generasi perhotelan tanah air melalui “gerakan menulis” satu hari satu artikel. Karena jika bonusnya tidak disiapkan bisa berakibat fatal bagi bangsa ini, pengangguran bisa merajalela. Lengkapnya kita bahas terpisah.

Silahkan pelajari lebih lanjut dalam link: bonus demografi penduduk 

Hotel budget tumbuh dan berkembang dengan sangat pesat hingga sekarang untuk meyongsong bonus tersebut yang rata-rata model hotelnya “Sama Saja” antara satu brand dengan brand yang lainnya. Yang bedanya menonjol hanya satu/dua brand saja, yang lainnya terkesan hanya ikut-ikutan saja.

Sesuai dengan yang saya rasakan ketika melakukan business trip diberbagai hotel brand kelas budget dan midscale di tanah air tiga tahun terakhir hingga saat ini, kebanyakan yang beda Hanya Cat, Pernak-Pernik di Lobby, Seragam Kerja dan Logonya saja. Sungguh suatu persaingan yang “koplak”, enggak ada faktor pembeda yang terlihat cukup strong. Pada akhirnya rebutan “kue” dan “perang harganya” kebablasan, sampai si bintang kecil berdarah-darah.

Saya hanya memprediksi tanpa bermaksud mendeskreditkan upaya yang telah dilakukan (mungkin salah atau benar saya tidak tahu, karena hanya asumsi pribadi) mereka yang mengembangkan brand-brand baru itu mungkin mengadopsi konsep “ATM” atau Amati, Tiru, Modifikasi yang banyak sekali diseminarkan diseantero negri.

Jika konsep pendekatan strategi tersebut yang diamalkan, maka sangat disayangkan  karena Anda hanya menjadi “Pengikut Saja” atau bahasa orang awamnya “Latah” tanpa dasar Research & Development yang kuat, karena jika Anda hanya menjadi “pengamat” saja masih belum cukup karena Anda hanya tertipu oleh kulitnya saja; bukan tenderloinnya.

Kenapa konsep ATM tidak mendidik dan dapat berpotensi menjerumuskan dalam kegagalan? 

Jika kita hanya meniru karya hotel lain, maka pertanyaan selanjutnya adalah:

Apakah Anda memahami filosopi dari detail element yang mereka buat? Apa kaitannya antara ide yang Anda contek dengan kerangka besar dari Strategic Management yang Anda miliki? Apa kaitanya dengan Core Values dari perusahaan Anda?

Nah, jika merujuk pada konsep Strategic Management, maka setiap detail elemen dan aktifitas apa pun yang kita lakukan dalam berkarya, hendaknya mengacu kepada “Garis-Garis Besar Haluan Perusahaan” yang termaktub dalam Strategic Road Map dan brand values yang akan dibuat, jika tidak maka tunggu saja waktu pembuktiannya jika Anda hanya mengandalkan Copy & Paste dan tanpa dasar yang kuat.

Kedua, keunggulan dalam menyontek adalah sangat mudah dilakukan, murah, tanpa berfikir dan sangat cepat diaplikasikan. Anda mungkin bisa saja mengkopi contoh arsitektur, menggandakan SOP hotel lain yang masih nampak terlihat tulisan nama hotel lain pada footer bundelan SOP dengan hanya menggantinya dengan logo hotel Anda pada bagian header, atau mengkopi hal-hal lain yang sangat tidak etis dilakukan, namun tahukah Anda bahwa Anda berada dalam katagori “People Industry”?

Secanggih Apa pun hasil contekan dan modifikasi Anda, maka:

You can not copy people who create the difference for your business because they were build based on Corporate Culture yang tentu saja didasari oleh sebuah Leadership Culture yang kuat yang terbangun dari hasil investasi pelatihan yang berbiaya mahal yang secara konsisten dilakukan secara turun temurun. They invest in People!

Ketiga, menyontek konsep belum tentu pas diterapkan karena Jiwa Hotel (karyawan/system; Roh perusahaan Anda)  atau Raga (struktur, layout, produk, dll) dari hotel Anda bisa jadi sangat berbeda dengan hotel yang akan Anda tiru. Misal, hotelnya Ala Indonesia atau Ala Asia, tapi jika menerapkan product atau system Ala Amerika atau Prancis; ya jelas kurang klop kan? DNA culturenya sangat berbeda jauh, leadership culture juga berbeda, segmentasi pasarnya juga bisa beda, apalagi system prosessnya: pendekatannya juga beda. 

Saya jadi ingat salah satu sahabat dokter senior yang juga klien saya mengatakan: Kalau Mau Ngopi Boleh-Boleh saja, Asal Pakai Ilmu, Biar Pas.

Segala sesuatunya memang ada ilmunya, termasuk ilmu minum “kopi lelet” ciri khas kota Rembang hahahahhaa….

Kesimpulannya adalah sebagai berikut:

Untuk  menjadi pemenang dalam persaingan yang sangat ketat seperti sekarang ini dimana customer sudah mulai pintar dan sangat demanding dalam memilih, maka pendekatan konsep “Blue Ocean Strategy” sangat dianjurkan untuk digunakan dengan cara menciptakan “Karya terbaru” yang belum pernah ada dipasar yang Anda masuki sehingga Anda tidak berenang dilautan yang sedang berdarah-darah.

Konsep ATM adalah konsep orang malas, yaitu mereka yang berkarakter Penumpang, Bukan Driver yang harus selalu berfikir untuk mencari jalan yang lancar dalam menghadapi kemacetan.

Konsep ATM  sangat mudah dan murah meriah, karena hanya meniru yang pada akhirnya akan tetap saja berada pada Red Zone for your business.

Sedangkan ongkos pendekatan strategi Blue Ocean sangat mahal karena terdapat fase riset dan pengembangan yang memerlukan biaya besar dalam penerapannya yang merupakan investasi jangka panjang bagi keberlangsungan bisnisnya. Karena, konsep ini lebih menitik beratkan kepada kreatifitas dan investasi tinggi dalam merumuskan strategi untuk menciptakan pasar baru.

Perusahan yang terdaftar dalam World Best Hotel Brand adalah mereka yang telah berhasil memimpin pasar dengan pendekatan Blue Ocean. Namun demikian, semua tergantung dari pilihan masing-masing hotel dalam memilih jenis strategi yang akan digunakan.

Apakah Anda masih Mengamati, Meniru, dan Memodifikasi karya dari hotel lain? Ataukah Anda sudah mulai berfikir dan memulai untuk menciptakan karya terbaru yang belum pernah terpikirkan oleh orang lain untuk bisnis bidang Pariwisata yang Anda sedang geluti? 

Selamat Berkarya dan Salam Jempolier!

By Ikin Solikin

About The Author

Ikin has been working for the world class hotel brand such as Hyatt, Pullman and Nikko. His latest role was managing for the Corporate Learning & Development Function at Tauzia Hotel Management.

Currently he is a Co-Founder and Project Innovation Director at Kapita Technology, a company that focus to develop an integrated hospitality solutions that is built together with various diciplines of hospitality experts runs over big data and artificial intelligent technologies created both for healthcare and hotel industries.      

Like & Share

3 thoughts on “Dua Jenis Strategi Dalam Bisnis Pariwisata

Leave a Reply

error: Copyright by HOTELIER.CO.ID 2017. For non commercial purpose, please contact info@hotelier.co.id