Cara Mempersatukan Hotelier Indonesia

Feel Free to share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

hotelier.co.id – Merujuk pada sejarah masa lalu bahwa karena Indonesia adalah negara kepulauan, maka sejak zaman Maja Pahit, hingga pada masa penjajahan Belanda, maka Indonesia mudah untuk dipecah belah dan diadu domba atau terkenal dengan istilah Politik Devide et Impera. 

Kenapa Zaman Dulu Indonesia Mudah diadu domba dan di pecah belah? Lalu  apa hubungannya dengan judul artikel ini? 

Maaf, kita enggak akan bahas politik Devide et Impera yang contohnya banyak tersebar diberbagai sosmed saat ini yang bikin mual perut dan jenuh dimata. 

Kita Flash back ke jaman mbah kita dulu aja yah, karena orang hotel itu pantang ngomongin politik dan sejenisnya. Bisa bahaya buat bisnis hotelnya sendiri. Lain kali akan kita ulas apa dampaknya yah… 

Indonesia itu mudah dipecah belah kerena negara kepulauan. Banyangkan banyak sekali pulaunya. Indonesia itu besar sekali, tapi terpotong oleh luasnya lautan. Inilah awal mula sejarah dimana kita sangat mudah dikuasi belanda dengan politik pecah belah dengan menggunakan kekayaan negri, yaitu luasnya lautan ibu pertiwi.

Indonesia itu diibaratkan seperti  “Sop Buntut“, sangat indah disajikannya, harum baunya, mempesona dan membuat banyak orang tergiur untuk nyruput kuah hangatnya dimana buntutnya itu sebagai pulaunya, sedangkan airnya itu lautannya. Tentunya dengan letak geografis tersebut ada sisi positif dan sisi negatifnya. Salah satu sisi kekurangannya adalah: Akses yang  sangat vital dan berdampak kepada: Waktu Tempuh, Komunikasi dan Distribusi.

Coba kita banyangkan  di zaman penjajahan belanda, misalnya Tete/Nene (kakek/nenek) dari Papua ingin berjumpa dengan Mbak Siti di kota Kendal.

Bagaimana mereka saling berkomunikasi untuk Reservasi ke Rumah Mbak Siti? Naik apa beliau berdua kesana? Berapa lama beliau akan tiba? 

Mungkin  saja mereka komunikasi via telepati dan berangkatnya naik burung merpati. Ya intinya, itulah ribetnya hidup mereka pada zamannya. Kasihan ya, enggak kayak kita-kita yang serba mudah dan tinggal numpang dipunggung ikan besi atau si Burung besi.

Mengingat si Tete dan Nene dari Papua belum pernah ke pulau Jawa, bagaimana jika mereka dibisiki kawan mereka yang intinya tidak menghendaki mereka berangkat kesana untuk bertemu dan bersatu? Misalnya, kawan mereka mengatakan “Hi Tete, Janganlah Kau Pergi Ke Jawa, Bisa Bahaya Kau Nanti.. bla bla bla”

Nah, disinilah letak kompor menyala.. masih kecil sih, enggak sampai melukai si Kakek. Si Kakek masih pengen ke Jawa (tapi sudah tereduksi minatnya menjadi 70% karena dibisiki). Lalu, datanglah teman yang kedua, ketiga dan pada akhirnya si Tete/Nene enggak jadi datang ke Rumah Mbak Siti, padahal udah reservasi tapi enggak ada informasi. Status kamarnya jadi No Show…Hahaha..

Karena faktor lokasi yang terpisah, jarak yang jauh, tidak tersedianya alat transportasi sebagai alat distribusi dan tidak adanya komunikasi, bisa saja si Mbak Siti menjadi berfikir lain mengenai mereka berdua karena ada orang ketiga, keempat dan seterusnya. Begitulah kira-kira gambaran dari politik pecah darah dimulai pada contoh masa lalu itu.

Begitu pula berbagai metode pendidikan yang digunakan pada zaman tersebut dan masih terbawa hingga saat ini yang memang dibentuk untuk membuat kurang kritisnya daya pikir siswa-siswinya, sehingga masyarakat mudah untuk dipecah belah. Metode belajar ini kita bahas di sesi terpisah aja yah…

Learning Poinnya adalah: Communication is the key factor to be united.

Tanpa adanya komunikasi maka sulit untuk bersatu. Oleh karena itu, perlu kedewasaan dalam menyikapi berbagai macam pertikaian dengan menanggalkan ego masing-masing, karena masalah komunikasi diawali dari “Ego Sentris” or “Aku Sentris”

Nah, sekarang kita ke masa kita yah.. yaitu masa sekarang ini, khususnya di Dunia Pariwisata dan Perhotelan.

Pertanyaannya: Sesama Hotelier yang berkebangsaan Indonesia, apakah kita sudah bersatu? Apakah kita sudah terintegrasi? Apakah kita sudah saling komunikasi?

Menurut pengamatan sih… hmmm, maaf, belum deh kayaknya.. kalau belum terus kenapa kita teriak-teriak dan koar-koar Indonesia? Slogan aja?

Berikut contoh kongkrit situasi dilapangan dan solusi apa yang bisa kita lakukan:

Pertama: Price War (Perang Harga)

Perang harga kamar udah dimana-mana. Untuk memenangkan sengitnya kompetisi bukan berarti jika Anda menggunakan “Bom Rate” murah berarti  Menang. Justru penulis melihat dari perspective yang  terbalik.

Kenapa? Karena dengan “Bom” harga murah berarti Anda akan mengorbankan kualitas dengan mengurangi biaya produksi, serta mengurangi level kepercayaan staff.

Berikut adalah dampak dari menerapkan harga murah:

Harga Murah, maka Kualitas Rendah

Jika harga yang diterapkan dibawah harga pada segmen market hotel Anda, maka  nilai kualitas yang diberikan kepada tamu berpotensi menjadi menurun. Karena setiap segmen pasar yang akan digarap sesuai klasifikasi bintang pastinya disesuaikan dengan value yang diberikan oleh hotel.

Oleh karena itu, jika Anda menurunkan harga pada level segmen pasar dibawah pasar hotel Anda, berarti kecenderungannya Anda akan mengurangi value yang Anda berikan untuk tamu Anda. Karena, setiap standard yang direduksi terdapat unsur biaya yang berkurang juga.

Cheap is not always best option, at the end: Quality will Talk!

Logika sederhananya:

Jika Anda menerapkan harga dibawah segmen pasar dan menerapkan biaya produksi yang sesuai standard kualitas (tidak ada yang dikurangi), maka Anda bertendensi impas dan lambat laur bangkrut. Lalu, diomelin atau bahkan dikramasin sama Owner dan Corporate Anda sampai muka Anda merah, karena bungung cari kerja yang lain atas track record dari performance bisnis Anda.

Alasan jualan kamar hotel untuk mengambil Volume besar dengan harga murah dalam penjualan ya syah syah aja, tapi dampaknya panjang jika terus-terusan dilakukan. Enggak enak kan diomelin owner karena berbagai hal dibawah ini;

Cat hotel yang sudah mulai luntur, furniture sudah pada bentol, linen atau duve pada bolong atau menguning, AC pada ngamuk karena sakit atau lantai yang kian kusam selayaknya Karyawan yang  terlihat musam?

Itu rugi pertama akibat perang untuk Anda sendiri, yaitu kesemprot “Bom” dari owner karena Anda ngebom Rate yang mendesak si Bintang Kecil menjadi pecah berdarah-darah. Kata Si Bli dan Si Mbok dari Bali ini disebut sebagai “Hukum Karma”

Nah, rugi keduanya: Karena Harga dan struktur biaya yang tidak ideal dan turunnya kualitas, maka dampaknya adalah: Turunnya Kepuasan Tamu Hotel.

Rugi Ketiga: Karena tamu kurang puas, maka Anda akan semakin sulit mencari pasar baru karena hilangnya kepercayaan dari tamu-tamu lainnya yang telah membaca ulasan-ulasan hotel Anda di dunia online yang kian sulit untuk dikendalikan.

Rugi keempat: Service Charge yang diperoleh karyawan hotel menurun atau cenderung rendah, akhirnya banyak karyawan yang kocar-kacir nyari kincir yang lebih dingin dan basah, sayangnya ini terus bergulir, bergulir dan bergulir. 

Rugi kelima: Property semakin hancur  karena hotel ramai terus dengan mengobral hotel untuk ngambilin pasar dari si bintang  kecil, keringat karyawan terperas oleh seragamnya sendiri. Sungguh kasihan nasib si bintang kecil yang hampir mati dan si Siti yang kerja sendiri karena “mereka” yang mau menang sendiri.

Dampaknya: You Happy and others are crying… Its Not Fair! dan sangat tidak etis!

Melihat realitas situasi  diatas beserta dampaknya, lantas Apa solusinya? Apa yang bisa kita lakukan?

Haruskah Kementrian Pariwisata turun gunung untuk hal ini, sehingga target 20 juta wisman di tahun 2019 terwujud?

Oh iya lupa, hotelier yang sejati kan enggak pernah mau minta-minta ke negara, tapi memberikan sumbangsih kepada bangsa. Ya udah, berikut ini adalah beberapa solusi.

Solusi pertama: Gimana kalau para kumpulan profesi menyumbangkan gagasan ke kemenpar untuk mengatur harga minimum sesuai klasifikasi bintang dan memasukkan kedalam unsur Sertifikasi Usaha Pariwisata Bidang Perhotelan? Bukankah dalam unsur sertifikasi ada unsur Business Plan? Bukankah harga kamar adalah salah satu unsur dari business plan? Kalau enggak ada business plan, mana layak mengoperasikan usaha? Tambahkan saja  menjadi sub unsur dalam sertifikasi, biar kelar perang harganya.

Terus siapa yang ngawasin standard harga terendah ditiap daerah tersebut? Ya biar mereka, kan sudah kita gaji pakai pajak kita. Semakin harga kamar terjaga, maka budget pajak daerah juga terjaga. Sama-sama enak kan?

Solusi kedua:  Masukkan  juga klausal dalam proses Sertifikasi Profesi Bidang Perhotelan? Misalnya, Sebelum mengambil sertifikasi profesi maka  mereka harus dilatih dulu tentang bangaimana cara menerapkan harga yang ideal? Selain itu, mereka juga harus tanda tangan “Kode Etik Profesi”. Sekali-kali profesi hotel juga boleh dong ada kode etiknya, masak cuma dokter aja.. gaya dikit boleh kan… hahahha.

Jika mereka melanggar kode etik, maka namanya dilaporkan ke Dewan Kode Etik Profesi. Sehingga, enggak ada lagi yang berseliweran di whats up group yang isinya black list kanan black list kiri yang bikin gemes. Sebelum merekrut, tinggal check aja ke websitenya Dewan Kode Etik Profesi, simple kan? 

Kayak dokter aja ada Dewan Pakar Kode Etik segala hahhahaha… boleh-boleh aja kan ngimpi? Kan dokter dan hotelier sama-sama expertise yang mengabdi kepada negri… hasil pajak kita juga gede kok,.. Nih, lihat ilustrasinya disini

Ide pertama dan kedua itu hanya sekedar mimpi, karena khawatir mereka masih tertidur pulas dan bermimpi indah mendatangkan 20 Juta wisman. Jadi, tulisan ini hanya sekedar wake up call saja untuk mereka yang bekepentingan. Itu pun kalau bangun, kalau enggak bangun dan ketinggalan pesawat ya itu urusan mereka, walaupun dampaknya jadi bikin repot hotel..

Jadi, Price War ini bisa diselesaikan selama semua orang yang berkepentingan  menjalin komunikasi, memiliki kemauan untuk menata etik masing-masing profesi dan mendukung atau mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah untuk kemajuan bersama demi bangkitnya geliat industri pariwisata kita. Sehingga para calon tamu kita yang konon jumlahnya 20 Juta itu bisa kita berikan kualitas pelayanan selayaknya level kualitas dibintangnya masing-masing dengan harga yang ideal.

Artikelnya masih belum kelar, kalau yang diatas adalah perang  pakai Bom Harga, Nah, perang kedua adalah “Perang Broto Wong” bahasa ingrisnya: Talent War.

Sudah terlalu banyak artikel seperti ini diterbitkan di hotelier.co.id, jadi enggak akan dibahas lagi yah… baca aja artikel dibawah sebelum kita simpulkan bagaimana cara Hotelier di Indonesia bersatu ya..

Dampak “Perang Broto Wong” adalah Bajak-bajakan Karyawan Yang Melupakan Etika  Profesi 

Nah, dampak dari “Perang Broto Wong” ini sangat menyedihkan bagi kualitas generasi kita. Wajar aja sih bajak-bajakan menjadi praktek rekruitment, karena memang jumlah hotelnya nambah terus, kayak kacang goreng, sedangkan bibitnya belum berbuah, tapi sudah dipetik dan dimakan hotel-hotel yang banyak dibuka.

Para pelajar sudah di pesan sebelum selesai, itulah peluang emas untuk anak si Ibu Pertiwi. Sayangnya si Anak baru bisa merangkak, tapi sudah dipaksa lari. Alhasil, mereka lari terbirit-birit karena diseret ke industri lain. Bibit yang kita tanam, malah buahnya diambil orang yang tidak kita kenal.

Haruskah  ada wake up call kedua untuk mereka? No need… lets do what we can do… biarlah mereka bangun sendiri..

Solusinya: Bersatulah antara Kumpulan Assosiasi dan Akademisi. Your job is  urgent. Yaitu, mengedukasi untuk menyiapkan generasi penerus bangsa untuk menyongsong 20 Juta wisman dalam 2 tahun kedepan. Akankah kita melihat industri kita gemilang? Bukankah itu harapan kita semua? Berjuanglah dan teruslah mendidik bangsa…

Bukankah Bapak Pendiri bangsa mengatakan: “Beri Aku 10 Pemuda, Maka Akan Kuguncang Dunia?”, Dimanakah pemuda-pemuda itu? Maka, berjuanglah..

Berjuang itu tidak harus mahal, bisa pakai jempol seperti kami atau dengan caranya sendiri-sendiri, tapi untuk satu tujuan yang sama, yaitu untuk Ibu Pertiwi.

Akhirnya, kita bisa simpulkan bahwa:

Profesi bidang perhotelan  dapat bersatu padu bila komunikasi berjalan dengan baik antar sesama, kompetitor adalah tetangga terdekat kita, ajaklah mereka bicara untuk menjalin komitmen bersama.

Gunakan jalur-jalur formal dan informal untuk mempengaruhi pemangku kepentingan, berikan mereka wake up call , kalau toh gagasan kita tidak diresponse setidaknya kita sudah berupaya untuk menyumbangkan kepada negri.

Gunakan etika dalam menjalankan bisnis karena bagaimana pun juga, dunia hotel itu kecil, pastinya suatu saat nanti Anda bisa saling bertemu kembali. Seperti Si Tete/Nene yang ketemu Si Mbak Siti walupun terpisah dengan luasnya  lautan dan jauhnya jarak antara Papua dan Kendal.

Kita bisa berjuang dengan berbagai hal, misalnya melakukan pelatihan kepada staff kita, memberikan berbagai masukan kepada akademisi untuk memperbaiki amunisi atau menulis dengan jempol untuk memproduksi kata-kata untuk membuka wawasan bersama seperti kami.

Selamat berjuang, semoga salah satu dari kesepuluh pemuda itu adalah Anda, untuk mengguncang dunia.

Pertanyaannya: Sudahkah kita semua bersatu? 

Salam Jempolier

By Ikin Solikin

Baca Juga Artikel dibawah ini:

Video Learning: Makna Team Work

Pentingnya Candidate Relationship Management

Menerapkan Budaya Revenue Management 

FAQ: Siapa dan Apa Motivasi Hotelier.co.id menulis?

 

Like & Share
error: Copyright by HOTELIER.CO.ID 2017. For non commercial purpose, please contact info@hotelier.co.id