Belajar Menyambut Wisatawan Tiongkok

Feel Free to share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

hotelier.co.id – Merujuk laporan dari Bank of America Merrill Lynch, hingga tahun 2019 diperkirakan akan ada 174 juta wisatawan dari Tiongkok (China, red) yang bepergian keliling dunia dengan jumlah pengeluaran sebesar total USD 264 milyar.  Angka ini dikonfirmasi oleh data dari United Nations World Tourism Organization (UNWTO) bahwa jumlah wisatawan Tiongkok merupakan pasar outbound tourism terbesar sejak 2012. (Link berita)

Tak heran jika pemerintah Indonesia menargetkan devisa dari wisatawan mancanegara (wisman, red) sebesar Rp 12 triliun. Angka yang fantastis ini diharapkan dapat dicapai dari kedatangan 1 juta wisatawan baru akibat diberikannya pembebasan visa Indonesia bagi 30 negara tambahan, mulai April mendatang (Link berita).

Jika wisatawan Tiongkok ditargetkan untuk mendatangkan devisa, lalu apa yang sebaiknya dilakukan oleh pemerintah Indonesia atau pun pihak swasta untuk membuat wisatawan Tiongkok nyaman dan membuat Indonesia sebagai tujuan pilihan wisata mereka?

Mari kita lihat dan belajar dari apa yang dilakukan negara lain untuk menyambut wisatawan Tiongkok.

Perancis

Sebagai negara dengan jumlah kunjungan wisman tertinggi di dunia, Perancis ternyata tetap berusaha menyesuaikan diri mereka untuk menyambut wisatawan Tiongkok yang terkenal senang memborong barang-barang mewah dari Perancis.

Tour operator Paris City Vision menangkap peluang bisnis untuk meningkatkan 50 persen kenaikan tamu Tiongkok-nya dengan menyediakan guide dan brosur berbahasa Mandarin.

Pada Juni 2013, Paris Chamber of Commerce and Industry dan Tourism Regional Board meluncurkan kampanye “Do You Speak Touriste” dalam usahanya untuk mempertahankan posisinya sebagai destinasi terpopuler di dunia serta membangun kesadaran para pemangku kepentingan di dunia pariwisata seperti sopir taksi, waiter, hotel manager, sales, guide dengan tujuan untuk menyambut turis lebih baik.

Tidak kurang dari 30.000 buku “Do You Speak Touriste” dalam 10 bahasa termasuk bahasa Perancis, dibagikan ke para pemangku kepentingan tersebut. Di dalamnya terdapat catatan bagaimana memperlakukan turis-turis dari Belgia, Belanda, Inggris, Jerman, Spanyol, Italia, Amerika, Jepang, dan Tiongkok.

Kalau wisatawan masuk ke laman (http://yesispeaktouriste.com/map/en) maka mereka bisa menemukan informasi mengenai destinasi wisata, tempat shopping, restauran dan lain-lain dalam 9 bahasa serta informasi hotel, restaurant dan tempat shopping mana yang dapat melayani dengan bahasa ibu mereka.

Pemerintah Perancis sangat paham untuk menjual secara on-line produk pariwisata mereka di Tiongkok, dengan membuat serangkaian kampanye di Weibo, jaringan sosial nomor satu di Tiongkok.

Spanyol
Jumlah wisatawan Tiongkok ke Spanyol meningkat 30 persen di 2013 dan pemerintah Spanyol berharap jumlahnya semakin meningkat. Kota Zaragoza, contohnya, berusaha mengakomodasi kebutuhan dan keperluan wisatawan Tiongkok melalui skema “Chinese friendly”, dengan mengubah restoran-restoran mereka.

Perubahan ini juga tampak di Madrid, tepatnya di Thyssen Museum dan Las Rozas Outlet Shopping Village yang juga mengubah fasilitasnya menjadi “Chinese friendly”. (www.tourism-review.com)

Amerika Serikat
Tahun 2011, lebih dari satu juta wisatawan Tiongkok mengunjungi Amerika Serikat dan menyumbang pemasukan sebesar USD 5,7 milyar bagi perekonomian Amerika. Angka ini meningkat 36 persen dibandingkan tahun 2010. Tahun 2016 pemerintah Amerika menargetkan kedatangan 2,6 juta wisatawan Tiongkok.

Kedatangan wisatawan Tiongkok untuk bersenang-senang di Amerika, bisa dilihat dari rata-rata pengeluaran mereka yang sebesar USD 6.000 per kunjungan. (Link Berita). Lalu, bagaimana para pemangku kepentingan di Amerika memanjakan wisatawan Tiongkok?

Hotel-hotel besar menyesuaikan diri dengan kebutuhan wisatawan Tiongkok dan membuat mereka merasa senyaman di rumah mereka sendiri. Pada saat wisatawan Tiongkok check-in di hotel W Times Square di New York, mereka disambut dengan teh yang disajikan di poci dan cangkir gaya China, menu congee disajikan pada saat makan pagi dan karyawan hotel yang dapat berbicara bahasa Mandarin selalu ada untuk membantu mereka.

“Chinese Welcome Programs” dilakukan oleh hotel-hotel terkenal seperti Marriott dan Hilton untuk menjembatani perbedaan budaya. Group tour dari Tiongkok tidak akan pernah ditaruh di lantai yang mengandung angka 4, yang dalam bahasa Mandarin bisa kedengaran seperti kata kematian. Hotel-hotel besar memberikan pelatihan mengenai kebiasaan dan budaya wisatawan Tiongkok untuk menghindari salah perlakuan yang dapat menyinggung wisatawan Tiongkok.

Tahun 2014 Starwood Hotel yang memiliki “Chinese Specialist” di tiap hotelnya di Amerika – merelokasi tim seniornya ke Tiongkok selama satu bulan. Ritz-Carlton merotasi general manager dan staff hotelnya ke hotel mereka di Tiongkok dengan masa penugasan 3 tahun.

Kedua jaringan hotel ini akhirnya menuai sukses dengan program customer rewards mereka yang sangat populer di Tiongkok. “Amat penting bagi para pemimpin kami untuk memahami apa yang terjadi di Tiongkok secara pribadi bukan sekedar statistik” ujar Vice President Marketing Ritz-Carlton, Clayton Ruebensaal. (Link berita).

Pemerintah Amerika menggelontorkan USD 22 juta untuk membangun fasilitas baru di beberapa kota di Tiongkok dan menambah 50 pegawai untuk memproses permohonan visa.

Pada bulan Februari, pemerintah Amerika mengumumkan bahwa wisatawan Tiongkok yang telah mendapatkan visa dalam kurun waktu 4 tahun terakhir, tidak perlu mengurus permohonan visa kembali secara perseorangan, tetapi cukup melalui kurir. Hasilnya, masa tunggu untuk interview visa dapat dipangkas menjadi di bawah satu minggu – dibandingkan tahun lalu yang masa tunggunya bisa lebih dari satu bulan.

Meski sudah melakukan usaha-usaha di atas, beberapa ahli pariwisata Amerika mengatakan bahwa Amerika masih tertinggal dibandingkan negara-negara Eropa dalam kesiapannya menyambut wisatawan Tiongkok. (Link Berita).

Indonesia

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menyatakan tekadnya untuk bisa menarik 2 juta wisatawan Tiongkok pada 2015. Menpar melakukan kunjungan kerja ke China selama tiga hari (11-13 Januari 2015) untuk pembicaraan bilateral dengan pejabat pariwisata China (China National Tourism Administration/CNTA) dalam rangka mendorong peningkatan kunjungan wisatawan kedua negara. (Link Berita).

Program apa saja yang telah dilakukan pemerintah untuk mempromosikan Indonesia di Tiongkok? Apakah program-program di atas sudah cukup kuat untu mencapai target 2 juta wisatawan Tiongkok pada 2015?

Dengan dana marketing Kementrian Pariwisata yang dialokasikan sebesar Rp 1 triliun untuk peningkatan promosi pariwisata Indonesian pada tahun 2015 melalui media global (Link Beirta), Indonesia punya pilihan untuk memilih media yang tepat.

Pemerintah Indonesia bisa belajar dari Pemerintah Perancis dalam menggunakan jaringan sosial yang tepat di Tiongkok.

Disparbud DKI Jakarta juga mengambil peran mempromosikan Jakarta di Tiongkok. Sayangnya informasi yang diberikan berisiko menuai komplain dari wisatawan Tiongkok. Setelah kunjungan Disparbud DKI Jakarta, yang diberitakan oleh www.whatsonxianmen.com pada 25-08-2014 adalah sebagai berikut:

The Tourism and Culture Office of Jakarta recently held an introduction meeting of its tourism resources in Xiamen. According to the meeting, the main goal was to encourage more Xiamen tourists to visit Jakarta. The city has added 800 special buses to loosen traffic pressure and 100 tourism buses to provide free services to tourists.

Sebaiknya kegiatan promosi pariwisata Indonesia ke Tiongkok dilakukan dari Kementerian Pariwisata bukan inisiatif masing-masing kota, untuk menjaga konsistensi berita dan informasi.

Saya juga berharap bisa menemukan informasi program yang praktis dan holistik penerapannya yang sesuai dengan tagline Kementerian Pariwisata saat ini yaitu; Wonderful Indonesia.

Namun, yang saya dapatkan hanya program pembebasan visa untuk wisatawan Tiongkok. Memang ini sudah merupakan salah satu cara untuk memberi kemudahan masuk ke Indonesia. Tetapi, jika pemerintah Indonesia menargetkan penerimaan devisa yang tinggi dari wisatawan Tiongkok, seharusnya ada program yang dibangun dengan pihak swasta untuk memanjakan mereka.

Karena wisatawan Tiongkok sangat gembira jika bisa berbicara dengan bahasa ibu mereka, maka saya googling lowongan untuk “Guest Relation Officer Mandarin Speaking” pada 2015, untuk melihat bagaimana industri perhotelan memenuhi kebutuhan wisatawan Tiongkok.

Sangat menggembirakan untuk menemukan bahwa hotel-hotel sudah mempersiapkan kebutuhan Guest Relation Officer yang bisa berbahasa Mandarin. Usaha yang strategis ini mudah-mudahan bisa diikuti oleh para pemangku kepentingan di dunia pariwisata lainnya.

Jika pihak swasta sudah berinisiatif untuk menyesuaikan pelayanannya dengan kebutuhan wisatawan Tiongkok, lalu Apa program Kementerian Pariwisata untuk menyiapkan para pemangku wisata di Indonesia? Apakah tidak sebaiknya ada satu program penguatan kapasitas pelayanan para seluruh pemangku wisata di Indonesia, yang notebene sudah memiliki berbagai asosiasi; ASITA, HPI, PHRI,HILDITIKPARI?

Pemerintah Perancis saja berusaha mendapatkan wisawatan Tiongkok dengan menjual negaranya melalui Weibo dan menguatkan pelayanan masyarakat pariwisatanya dengan program “Do you speak touriste”.

Jangan sampai Kementrian Pariwisata menjual, menjual, dan menjual saja tetapi para pemangku kepentingan dalam negeri sendiri tidak dipersiapkan dan akhirnya yang kita tuai adalah reputasi buruk.

Mari kita mulai belajar mengucapkan 欢迎访问印尼 Huānyíng fǎngwèn yìnní, welcome to Indonesia.

Salam Jempol!

By Ade Noerwenda

About The Author

16 years experience in hospitality industry with the latest position as Director of Human Resources Malaysia, Indonesia, Singapore at Accor (2008-2014). Today, I build and manage Dinamis Indonesia, a Human Resources and Corporate Social Responsibility Consultant.

www.dinamisindonesia.com

Like & Share

Leave a Reply

error: Copyright by HOTELIER.CO.ID 2017. For non commercial purpose, please contact info@hotelier.co.id