3 Hal Yang Menghancurkan Karir Hotelier

Feel Free to share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

hotelier.co.id – Pernahkah Anda melihat seseorang yang karirnya begitu cemerlang namun tiba-tiba terjatuh? Atau Pernahkah   Anda melihat karir seseorang yang naik begitu cepat namun kemudian menjadi pengagguran atau banting setir kepada profesi lain?

Disinilah pentingnya kita dalam menata karir di Industri Pariwisata dan Perhotelan. 

Dihimpun dari berbagai sumber dan observasi yang saya lakukan akhir-akhir ini, maka dalam artikel ini saya akan share tiga hal yang membuat karir seseorang “Gagal Total” dan bagaimana cara pencegahannya.

Penyebab Pertama adalah Tahta 

Banyak sekali kita jumpai seseorang yang baru saja meniti karirnya kemarin sore, tiba-tiba sudah menempati posisi pimpinan dihotel. Hal ini disebabkan karena mereka “Gila Tahta“.

Faktor yang paling banyak terjadi dilapangan adalah “Kutu Loncat“. Saya mendifinisikan kutu loncat  adalah karir seseorang dimana ia berpindah-pindah tempat untuk mengejar tahta yang kurang dari 2 tahun masa kerja dari posisi sebelumnya ke posisi yang lebih tinggi.

Contohnya: Seorang Front Office Supervisor atau Asst. FOM yang kurang genap 2 tahun berada di posisinya sudah berpindah ke hotel lain untuk menempati posisi Front Office Manager.

Jika mereka pindah hotel dalam satu group hotel yang sama maka tidak tergolong kedalam katagori “Kutu Loncat” karena bisa jadi mereka mengikuti  internal development program dari kantor pusat mereka. Tapi, bagi mereka yang keluar dari Group itulah yang termasuk golongan “Kutu Loncat” atau bahasa kerennya “The Loncater” hahahha…

Kenapa minimal harus dua tahun diposisi yang sama sebelum menempati jenjang posisi yang lebih tinggi? 

Merujuk pada teori Fundamental Talent Management yang dihimpun dari berbagai sumber maka, Tahun pertama adalah tahun dimana Anda belajar pada “Posisi Anda” saat ini, lalu tahun kedua adalah tahun dimana Anda “membuktikan” kinerja Anda dan mengasah level kompetensi untuk posisi Anda.

Gambaran ilustrasinya seperti ini:

Tahun pertama Anda baru saja dipromosikan sebagai Asst Front Office Manager, maka di tahun pertama ini pastinya banyak hal baru yang akan Anda pelajari untuk menyesuaikan komptensi dan jabatan Anda.

Jadi, tahun pertama adalah “tahun” dimana Anda dituntut belajar untuk memastikan bahwa Anda sudah “sesuai” dengan “level jabatan” yang baru saja Anda tempati.

Lalu, ditahun pertama  ini pula Anda akan diberikan “Performance Appraisal” (evalusi kinerja) atas “hasil kerja” yang sudah dilakukan selama satu tahun terakhir, dalam diskusi performance appraisal ini Anda juga akan mendapatkan target-target pencapaian untuk tahun kedua.

Singkatnya: Performance Appraisal yang benar sesuai kaidah  teori Performance Management dan yang sudah banyak diterapkan adalah mendiskusikan dua hal, yaitu “Hasil kerja Tahun Lalu” dan “Sasaran Kerja Tahun depan” Topik ini akan kita bahas khusus secara berseri.

Jika Anda tidak menuntaskan target-target kerja ditahun kedua tersebut dan memilih untuk resign, maka:

Apa yang akan ditanyakan oleh recruiter kepada Anda? Bagaimana Anda menjawab pertanyaan mereka ketika mereka bertanya mengenai performa kerja Anda? Apa yang akan Anda jawab? 

Jadi, mengejar “Tahta” itu syah-syah saja selama Anda menyiapkan level kompetensi Anda untuk menduduki tahta tersebut. Apa yang terjadi jika Anda mengejar “Tahta” tanpa “Ilmu“?

Banyak kasus dilapangan dimana mereka yang akhirnya resign karena beranggapan bahwa “Pekerjaannya terlalu berat“.  Padahal, karena memang  level kompetensinya kurang pas dengan beban pekerjaan pada jabatan yang diembannya atau bisa jadi mereka saja yang ingin semuanya serba instant yang akhirnya mereka “loncat-loncat”.

Katakanlah Anda memaksakan diri Anda untuk loncat kejenjang yang lebih tinggi, lalu Anda merasa bahwa pekerjaannya terlalu berat dan akhirnya Anda resign dan melamar ketempat baru, terus Anda mengulangi ritme yang sama, secara terus menerus dalam perjalanan karir Anda. Lalu, bagaimana para recruiter itu bisa percaya dengan performa dan loyalitas Anda jika sedikit-sedikit  loncat? 

Dipoin inilah bahwa “mengejar Tahta” tanpa ilmu yang cukup maka hanya akan mengahancurkan karirmu sendiri dikemudian hari dan lama-lama enggak laku karena bisa jadi Anda telah melukai hotel dengan performa kerja Anda yang rendah.

Lantas, apa solusi untuk mencegahnya? 

Hiraukan omongan orang lain yang menyatakan bahwa:

  1. Setelah lulus kamu jadi Manager
  2. Pindah hotel lain aja biar cepet naik posisi
  3. Dari Hotel Bintang Besar Turun ke Hotel Bintang yang lebih Kecil, yang penting naik posisi dan gaji

Tata rencana karir Anda dengan sebaik-baiknya lalu pelajari semua keilmuan yang dibutuhkan. Ikuti program pelatihan dan program pengembangan karir dihotel Anda dengan baik dan niscaya karir Anda akan tumbuh selaras dengan pertumbuhan bisnis dihotel Anda. Jika Anda bekerja di hotel chain, fokus saja meniti karir di dalam naungan hotel group  yang sama.

Jadi, sempurnakan karir dan kompetensi Anda, syukuri apa yang telah Anda dapatkan dan hindari menjadi “The Loncater”.

Penyebab Kedua adalah “Harta” 

Dalam akhir tahun lalu saya sering sekali bertemu dengan klien saya yang kebanyakan dari mereka adalah CEO di Industri perbankan, Kesehatan dan perhotelan nasional.

Ketika  saya berdiskusi dengan mereka saya belajar banyak bahwa “Integritas” sangat mahal sekali harganya. “Kejujuran” menjadi hal yang sangat langka dan “kesederhanaan” menjadi barang yang sangat berharga.

Apa maksud dari ungkapan diatas?

Kami mengamati dan melakukan riset kecil-kecilan bahwa pemicu utama dari penyebab kegagalan dalam  berkarir yang kedua adalah “Harta” yang disebabkan karena faktor “Gaya Hidup” atau “Gengsi

Bayangkan, salah satu  CEO diatas yang gajinya titik titik saja naik kendaraannya sekelas “Honda Mobilio Seri Terbawah” tapi para bawahannya, yang sangat jauh dari posisinya yaitu “Line Manager” yang gila “Harta” itu naik mobilnya sekelas “Pajero Sport”.  Sugguh terbalik  dunia ini…

Tahukah Anda apa yang terjadi? Dari manakah sumber penghasilan si penggila harta itu? 

“Fraud”, ya betul Fraud atau hasil kejahatan yang telah diketahui dari hasil audit dan akhirnya karirnya putus ditengah jalan dan  berakhir di jeruji besi. Gaya hidup yang sungguh mengancurkan karena tergiur oleh “Nafsu Gengsi” untuk dipandang oleh orang lain. Tak ubahnya lebih besar pasak dari pada tiang dan akhirnya menghalalkan segala cara untuk meraih “Harta“.

Apa Solusinya supaya hal tersebut tidak terjadi dalam karir kita?

Integritas, kejujuran dan kesederhanaan menjadi sangat penting bagi kita untuk menjaga agar karir kita tumbuh dengan baik dan benar. Jika Anda ingin bergaya, maka bergayalah sesuai dengan kapasitas level ketebalan “Dompet Anda“, jika gaya hidup Anda kelewatan apa lagi jauh dari level gaji Anda, maka berhati-hatilah atas segala godaan yang mungkin saja menjerumuskan Anda untuk menghalalkan segala cara dalam mendapatkan “Harta”.

Cara memfilternya adalah sebagai berikut:

Ketika posisi Anda merangkak Naik dan terdapat selisih kenaikan upah, maka tabunglah untuk masa depan Anda dan bergayalah  seperti Anda sebelumnya yang apa adanya dan sederhana.

Anda dapat menabung selisih dari pendapatan Anda sebagai persiapan untuk beli rumah atau sisihkan sekian persen untuk sedekah sebagai raya syukur atas kenaikan posisi Anda.

Intinya adalah “Budaya Nabung” dan “bersyukur”, Bukan “Budaya Konsumtif“, sehingga Anda bisa menata karir dan kehidupan Anda menjadi lebih baik dan terhindar dari kegagalan berkarir karena godaan “Harta” dan “Gengsi”.

Yang perlu dicatat adalah “Gaya Hidup” akan  berkorelasi terhadap “tingkatan harta” yang Anda butuhkan. Jadi, diperlukan kedewasaan dalam menata gengsi.

Penyebab Ketiga adalah Wanita

Ketika Anda telah memiliki “Tahta“, maka Anda berpotensi dekat dengan “Harta” dan disitulah Anda berpotensi digoda oleh “Wanita“, ini berlaku untuk Anda yang pria, untuk yang wanita belum sempat riset, hahahaha…

Contoh ilustrasi kasus yang yang dihimpun dari berbagai sumber adalah sebagai berikut:

Anda adalah seorang General Manager dimana semua keluarga Anda berdomisili di kota lain. Sebagai pria yang normal dan berbulan-bulan Anda tidak ketemu istri Anda, Apa yang akan Anda lakukan?

Jika Anda membawa wanita lain kedalam kamar hotel Anda, maka sudah jelas this is classified as unethical behaviours. Beberapa hotel chain sangat keras dalam menerapkan policy seperti ini  untuk memproteksi nama baik mereknya dimata para stakeholder.

Lantas, apa yang terjadi dalam karir Anda bila dilanggar? 

Di poin inilah karir yang sudah dibangun begitu lama, sirna sia-sia karena wanita untuk kenikmatan sesaat.

Contoh kasus yang lainnya yang dapat menghancurkan karir Anda misalnya: melakukan Sexual Harrasment baik dari perkataan maupun perbuatan dan lain sebagainya yang tentu saja tidak patut dilakukan oleh seorang hotelier yang taat terhadap etika dan profesionalisme dalam bekerja.

Jika semua hal yang berhubungan dengan “Wanita” diatas dilanggar, maka niscaya Anda akan menerima konsekuensinya yang berdampak buruk terhadap catatan karir Anda.

Lalu, Bagaimana Solusinya?

Jalin komunikasi dengan keluarga (bila sudah berumah tangga), berdoa atau Jaga Nafsu Anda dengan cara Anda masing-masing.

Jadi, Harta, Tahta dan Wanita adalah satu paket godaan yang dapat menghancurkan karir Anda sesuai dengan apa yang telah banyak diwejangkan oleh para leluhur kita.

Ilustrasi diatas bisa terjadi dimana saja dan di industri apa saja karena memang kodratnya manusia memiliki hawa nafsu, yaitu Nafsu untuk dipandang atau gengsi, nafsu untuk menaiki tahta dan wanita.

Sudahkah Anda mampu mengontrol ketiga Nafsu diatas?

Semoga perjalanan karir Anda selaras dengan rencana yang sudah Anda susun dengan berpedoman kepada etika yang baik dalam meniti karir Anda.

Salam Jempolier!

By: Ikin Solikin 

Pelajari Juga Artikel Dibawah:

Ciri-ciri Anda akan dibajak hotel lain

Falsafah Ronggowarsito Yang Masih Relevan Hingga Saat Ini

Etika Resign dari Hotel

Lifestyle Karyawan Jempolan

Sifat dan Karakter Anak Perhotelan

 

Like & Share

2 thoughts on “3 Hal Yang Menghancurkan Karir Hotelier

Leave a Reply

error: Copyright by HOTELIER.CO.ID 2017. For non commercial purpose, please contact info@hotelier.co.id